
Kalau perilaku membaca saya
dan anda sama, mungkin kita
akan berfikiran sama mengenai
persepsi awal yang negatif
mengenai novel ini.
Kebiasaan saya pertama kali
membaca buku biasanya saya
lihat dulu judulnya-sampul
belakang-membaca buku secara acak-
setelah itu baru berurutan dari
yang terdepan.
Judul buku ini: Aku, Buku,
dan Sepotong Sajak Cinta.
Yang menjadi tokoh utama
dalam buku ini adalah si empunya
buku ini sendiri.
Ketika saya lihat secara acak halaman
demi halaman terselip banyak ungkapan
rasa cintanya terhadap ibu kosnya.
Jangan bayangkan dia anggota
pecinta tante girang. Karena
Ibu kosnya itu masih muda
dan baru beranak satu.
Lalu saya singkap kembali
halaman lainnya (kata pengantar)
disini ditemukan
kata-kata yang berbau porno:
"Kalau lagi kesal dan kepala lagi
bekerja setegang begini, k*l***n
tidak bernafsu. *agi** mati rasa".
Apaan nih?! Terus saya lihat
siapa orang yang menulis
kata pengantar ini ternyata seorang
perempuan. Loh kok perempuan?
Bukannya penulis ini Laki-laki?
Setelah pertanyaan dan
dan persepsi negatif mengenai
buku ini, lalu saya niatkan
untuk membaca dari awal
secara berurutan dan
inilah dia fakta sebenarnya:
1. Buku ini adalah hasil wawancara
antara seorang penulis perempuan
dengan seorang penulis laki-laki
(empunya buku ini) yang
juga berperan sebagai tokoh utama.
2. Setelah wawancara di Yogyakarta
beres, pewawancara ini pulang kembali
ke Bandung dan tidak lama kemudian
dia (penulis perempuan) mendengar
bahwa penulis yang dia wawancara
ini telah tewas mengenaskan di tabrak
bus pariwisata di daerah merapi
Yogyakarta.
3. Setelah mendengar kabar tersebut
transkrip hasil wawancara ini pun
buru-buru disusun dan menjadilah
sebuah buku, dan penerbit
yang bersedia menerbitkannya
adalah penerbit Jendela Yogyakarta.
Penuturannya isinya dengan
gaya bercerita yang bebas dan indie.
Tanpa tedeng aling-aling ungkapan
kekesalan terhadap salah satu
pihak misalnya diungkapkan secara
gamblang (mungkin itulah
gaya bercerita seorang aktifis).
Kelebihan lain yang dimiliki oleh buku
ini adalah kemampuan si transkriptor
(penulis cewek bengal) menulis kembali
hasil wawancaranya dengan baik.
Mengungkapkan hati dan pola fikir
seorang laki-laki secara "jujur".
Meskipun proses wawancara
yang sulit karena si tokoh utama
ini tidak mau sesi wawancaranya
itu diganggu oleh alat tulis dan
alat perekam lainnya. Jadi murni
mengandalkan panca indera,
analisis serta daya ingat
yang kuat.
Tokoh utama dalam novel ini
mengalami hal-hal yang sangat pahit
di masa anak-anak sampai akhir
hayatnya (dari kacamata kita)
dan penerbit novel ini pun
menyebutnya dengan hidup nggetih.
Kehidupan sebagai aktifis secara jujur
juga diungkapkan sebagai pelarian
dirinya terhadap keadaan hidupnya,
bukan hanya dari segi materi
tapi juga dari hubungannya
dengan sesama manusia.
Bagi anda yang mencari sesuatu
yang berbeda, menarik, indie,
dan ingin mengetahui
sedikit latar belakang dan pola fikir
sebagian aktifis, buku atau novel ini
sangat cocok.
Pahit dan manis itu tipis jaraknya.
Anda yang sudah mengaku sudah
dewasa mungkin setuju dengan
pernyataan saya ini. Dan saya
tidak menganjurkan orang
yang belum dewasa untuk membaca
novel ini karena banyaknya isi
yang harus disaring.